Ahok, Tokoh yang Patut Diteladani!

Siapa yang tidak kenal dengan Basuki Tjahaja Purnama, atau yang biasa disapa Ahok ini. Ya, dia merupakan wakil gubernur Jakarta yang baru. Bersama Jokowi, Gubernur Jakarta, dia memiliki tujuan yang mulia untuk menjadikan Jakarta menjadi Jakarta yang benar-benar baru. Panjang cerita sehingga dia kini bisa terpilih menjadi Wakil Gubernur Jakarta mendampingi Jokowi. Tetapi tidak lain adalah keteladanan yang pantut dicontoh dari dirinya.

Nama Ahok bukan berarti hokki atau beruntung, tapi Ahok itu sendiri lebih condong kepada sekolah atau belajar. Nama tersebut diberikan oleh sang Ayah dengan harapan si Ahok nantinya tidak berhenti untuk belajar. Dan ternyata benar, Ahok tida henti-hentinya menyerap ilmu dari sang Ayah. Sayng ayah sendiri dikenal sebagai insan yang berjiwa sosial yang tinggi. Sehingga yang diturunkan kepada Ahok-pun juga merupakan nilai-nilai yang luhur.

Ayah Ahok selalu mengatakan kepada Ahok bahwa suatu saat masyarakat akan berpihak dan berlindung dibaliknya. Tetapi perkataan tersebut selalu ditanggapi oleh Ahok sebagai lelucon belaka. Bagaimana tidak, semenjak Ahok masih kecil bau-bau SARA sudah sangat pekat tercium. Hal-hal kecil tetapi menyakitkan terjadi, seperti tidak diperbolehkan menjadi pengibar bendera hanya karena dia keturunan Cina.

Tetapi suatu saat, usahanya dibidang pengolahan pasir terpaksa ditutup karena tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah setempat. Ahok sempat frustasi dan putus asa, dan memutuskan untuk pindah ke Kanada. Tetapi ayahnya tidak memperbolehkannya, dan sekali lagi mengajarkan filosofi hidupnya:

Orang miskin jangan lawan orang kaya. Orang kaya jangan lawan penguasa

Dan berbekal filosofi tersebut, Ahok berfikir bahwa untuk bisa mengubah kebijakan, maka dia harus menjadi penguasa terlebih dahulu. Berbekal keyakinan tersebut, maka dia memutuskan untuk bergelut di bidang politik. Bukan dukungan yang didapat dari Ibunda, tetapi ketidak setujuan. Sang Ibu berpikiran bahwa politik adalah ladang yang sangat berbahaya dan tak tentu arahnya. Tetapi akhirnya Ahok bisa menjelaskan bahwa sepeninggalan Ayahnya, Ahok memiliki tanggungan sosial untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

Terdapat pemikiran brilian lain yang keluar dari benak Ahok. Yaitu adanya perbedaan antara bantuan sosial dan keadilan sosial. Bantuan sosial, bisa dicontohkan bahwa ketika ada orang yang datang kepada kita dalam kondisi babak belur, lalu kita mengobatinya dan memberinya uang, maka itu bantuan sosial. Tetapi jika kita mengobati, memberi uang dan menjamin orang tersebut tidak babak belur lagi, maka itu namanya bantuan sosial.

Dia membeberkan bahwa di Bangka 93% penduduknya adalah orang muslim. Cina dan katholik yang membuat dia merasa dobel sial dalam laga politik yang akan digelutinnya. Tapi kenyataan berkata berbeda. Masyarakat memenangkannya. Ketika beberapa pendukungnya ditanyai mengenai pendapatnya, mereka mengatakan:

Saya berpikir bahwa Ahok itu Islam. Hanya saja dia belum diberi hidayah untuk menjadi muslim.

Dalam kepemimpinannya, sikap jujur dan adil selalu dikedepankannya. Semenjak menjadi Bupati Bangka, dia memiliki web pribadi yang selalu dia update kontennya. Banyak yang dia tulis disana. Bahkan rincian uang jajannya pun dia paparkan disana. Hal tersebut dimaksudkan tidak lain untuk menunjang transparansi yang dia kedepankan.

Jauh setelah perjuangannya di Bangka, kini dia tampil kembali dengan berkoalisi bersama Jokowi untuk memimpin Jakarta. Usaha yang dilakukan keduanya tidak terkesan mudah dan begitu saja bisa diraih. Tetapi banyak halang dan rintang yang harus mereka hadapi. Salah satunya adalah isu tentang ras dan agama.

Memang semenjak dahulu, semenjak politik pecah belah yang dilakukan oleh Belanda, masyarakat keturunan Tionghoa menjadi masyarakat marjinal. Penyebab utamanya adalah bahwa masyarakat Tionghoa adalah masyarakat yang ulet dan tekun, sehingga dapat dengan mudah menyalip perekonomian kolonial Belanda pada masa itu, Diperparah lagi dengan rendahnya daya saing masyarakat pribumi terhadap masyarakat keturunan, yang sampai sekarang masih menjadi persoalan. Sehingga terkadang masih saja ada ungkapan yang kurang pantas diucapkan, seperti bahwa orang keturunan hanya menumpang di Indonesia, dsb.

Kita tidak boleh sebelah mata memandang orang keturunan Tionghoa. Karena sedikit banyak masyarakat golongan ini telah membantu bangsa Indonesia melewati permasalahan ekonomi, sosial dan politik. Entah disadari atau tidak oleh sebagian besar orang, bahwa mantan presiden RI, Abdurrahman Wahid, adalah keturunan Tionghoa. Keteladanan beliau juga patut untuk dicontoh. Betapa tidak, Gus Dur telah bisa mengatasi permasalahan-permasalahan perpecahan dalam kebudayaan.

Satu kutipan yang saya suka, yang saya dapatkan dari film “Sang Pencerah”, yang kurang lebih sebagai berikut:

Jika kita ingin belajar, maka berprasangka baiklah kepada semua orang

Dari kutipan tersebut kita bisa mengambil pelajaran bahwa dalam belajar, kita tidak boleh membeda-bedakan suku, ras ataupun agama. Karena sebenarnya yang perlu kita serap adalah ilmu dan keteladanan mereka, bukannya malah mempermasalahkan latar belakangnya.

Maka dari itu, ada beberapa keteladanan yang bisa kita petik dari tokoh-tokoh tersebut. Perbedaan bukan menjadi masalah. Karena kita satu, Indonesia. Karena kita Bhineka Tunggal Ika. Sehingga tak perlu kan berkacamata di negeri sendiri?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s